Nama : Vinny Setiawan
Npm
: 17211291
Kelas
: 2EA26
Nakula dalam Mahabharata
Menurut
Mahabharata, si kembar Nakula dan Sadewa memiliki kemampuan istimewa dalam
merawat kuda dan sapi. Nakula digambarkan sebagai orang yang sangat menghibur hati.
Ia juga teliti dalam menjalankan tugasnya dan selalu mengawasi sifat jahil
kakaknya, Bima, dan bahkan terhadap senda gurau yang terasa serius. Nakula juga
memiliki kemahiran dalam memainkan senjata pedang.
Saat
para Pandawa mengalami pengasingan di dalam hutan, keempat Pandawa (Bima, Arjuna,
Nakula, Sadewa) meninggal karena meminum air beracun dari sebuah danau. Ketika
sesosok roh gaib memberi kesempatan kepada Yudistira untuk memilih salah satu
dari keempat saudaranya untuk dihidupkan kembali, Nakula-lah dipilih oleh Yudistira
untuk hidup kembali. Ini karena Nakula merupakan putera Madri, dan Yudistira,
yang merupakan putera Kunti, ingin bersikap adil terhadap kedua ibu tersebut.
Apabila ia memilih Bima atau Arjuna, maka tidak ada lagi putera Madri yang akan
melanjutkan keturunan.
Ketika
para Pandawa harus menjalani masa penyamaran di Kerajaan Wirata, Nakula
menyamar sebagai perawat kuda dengan nama samaran "Grantika". Nakula
turut serta dalam pertempuran akbar di Kurukshetra, dan memenangkan perang besar
tersebut.
Dalam
kitab Prasthanikaparwa, yaitu kitab ketujuh belas dari seri Astadasaparwa Mahabharata,
diceritakan bahwa Nakula tewas dalam perjalanan ketika para Pandawa hendak
mencapai puncak gunung Himalaya. Sebelumnya, Dropadi tewas dan disusul oleh
saudara kembar Nakula yang bernama Sadewa. Ketika Nakula terjerembab ke tanah, Bima
bertanya kepada Yudistira, "Kakakku, adik kita ini sangat rajin dan
penurut. Ia juga sangat tampan dan tidak ada yang menandinginya. Mengapa ia
meninggal sampai di sini?". Yudistira yang bijaksana menjawab,
"Memang benar bahwa ia sangat rajin dan senang menjalankan perintah kita.
Namun ketahuilah, bahwa Nakula sangat membanggakan ketampanan yang dimilikinya,
dan tidak mau mengalah. Karena sikapnya tersebut, ia hanya hidup sampai di
sini". Setelah mendengar penjelasan Yudistira, maka Bima dan Arjuna
melanjutkan perjalanan mereka. Mereka meninggalkan jenazah Nakula di sana,
tanpa upacara pembakaran yang layak, namun arwah Nakula mencapai kedamaian.
Nakula dalam pewayangan Jawa
Nakula
dalam pedalangan Jawa disebut pula dengan nama Pinten (nama
tumbuh-tumbuhan yang daunnya dapat dipergunakan sebagai obat). Ia merupakan
putera keempat Prabu Pandudewanata, raja negara Hastinapura dengan permaisuri
Dewi Madri, puteri Prabu Mandrapati dengan Dewi Tejawati, dari negara
Mandaraka. Ia lahir kembar bersama adiknya, Sahadewa atau Sadewa. Nakula juga
menpunyai tiga saudara satu ayah, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti, dari
negara Mandura bernama Puntadewa (Yudistira), Bima alias Werkudara dan Arjuna
Nakula
adalah titisan Batara Aswin, Dewa tabib. Ia mahir menunggang kuda dan pandai
mempergunakan senjata panah dan lembing. Nakula tidak akan dapat lupa tentang
segala hal yang diketahui karena ia mepunyai Aji Pranawajati pemberian Ditya
Sapujagad, Senapati negara Mretani. Ia juga mempunyai cupu berisi "Banyu
Panguripan" atau "Air kehidupan" pemberian Bhatara Indra.
Nakula
mempunyai watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan dapat
menyimpan rahasia. Ia tinggal di kesatrian Sawojajar, wilayah negara Amarta.
Nakula mempunyai dua orang isteri yaitu:
- Dewi Sayati puteri Prabu Kridakirata, raja negara Awuawulangit, dan memperoleh dua orang putera masing-masing bernama Bambang Pramusinta dan Dewi Pramuwati.
- Dewi Srengganawati, puteri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa yang tinggal di sungai Wailu (menurut Purwacarita, Badawanangala dikenal sebagai raja negara Gisiksamodra alias Ekapratala) dan memperoleh seorang putri bernama Dewi Sritanjung. Dari perkawinan itu Nakula mendapat anugrah cupu pusaka berisi air kehidupan bernama Tirtamanik.
Setelah
selesai perang Bharatayuddha, Nakula diangkat menjadi raja negara Mandaraka
sesuai amanat Prabu Salya kakak ibunya, Dewi Madrim. Akhir riwayatnya
diceritakan, Nakula mati moksa di gunung Himalaya bersama keempat saudaranya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar