Nama buku : Air Mata surga
Pengarang : E. Rokajat Asura
Penerbit : Imania
Tebel buku : 316 halaman
Harga buku : 39000
Sinopsis :
Tim dokter dibuat terrcengang dengan kesabaran yang diperlihatkan baraah sameh, sementara paman dan bibinya takkuasa menahan derai air mata. Walaupun kakainya telh diamputasi untuk menghambat penyebaran kanker osteosarcoma, penykit ganas itu telah menjalar ke otak baraah. Apa kata gadis kecil penghafal al-Qur’an ini sebelum masuk ruang operasi? “ Alhamdulillah, aku akan segera bertemu dengan baba dan mama disurga”. Semua teman dan keluarga terkejut. Gadis kecil ini sedang menghadapi musibah yang bertubi-tubi, tetapi dia tetap sabar da ikhlas dengan apa yang ditetapkan alla untuknya.
Kematian Baba (ayahnya) tertabrak didepan matanya sendiri saat akan menjenguk Mama yang terlukai lemah terserang kanker di sebuah rumah skit, tak membuatnya patah arang. Ia bahkan bisa lolos mewakili provinsi untuk Musabaqah Hifzil Qur’an ditengah tragedi kematian baba dan mamanya terjadi. Untuk kesabaran dan keteguhan hatinya itu baraah dianggap sebagai malaikat kecil yang baru turun dari surga.
“ Kisah tentang baraah, gadis kecil yatim piatu yang berjuang melawan kanker ini, seakan-akan menampar saya : semangat hidupnya, kecintaannya pada hafalan kitab suci, kebaikan hatinya untuk berbagi, ketabahnnya yang menembus batas. Baraah tak perlu menjadi sedikit dewasa/ matang/ tua untuk ‘menasihati’saya.bahkan dengan kekhasan kanak-kanaknya itu, baraah berhasil membuat saya terhenyak berkali-kali. Lebih dari itu, ending-nya membuat saya bertanya-tanya, ini kisah nyata atau fiksi ya? Penulis sukses mempermainkan emosi pembaca.”
Judul intrinsik novel : Perjalanan hidup gadis kecil yatim piatu berjuag melawan kanker ganas
Latar belakang :
• dirumah sakit
• Di sekolah
• Di apartemen
Alur : cerita ini adalah alur maju menceritakan kehidupan baraah melawan kanker ganas
Gaya bahasa: mudah dimengerti, tidak terbelit-belit
Amanat: tetap berjuang walaupun hidup ini berat
Penokohan : Baraah, Tim dokter, Baba, Mama, Bu Fateema Kepala Sekolah ibtidaiyah Andalus, Mama Dinia, Papa Dinia, Ustadzah Hasna Ahilah, Bibi Baraah, Kakak ipar baraah
Kelebihan : kebaikan hatinya untuk berbagi, kesabarannya, serta dari kisah hidupnya banyak dijadikan pelajaran bahwa dalam menjalani kehidupan ini kita harus bertawakal.
Kekurangan : Tidak ada kelemahan yang terdapat dalam novel ini.
Jumat, 30 Mei 2014
Rangkuman Novel Air Mata Surga
Baraah yang bermata sayu
itu terlihat semakin kuyu. Ia duduk dikursi roda, didorong ami Hassan menuju
taman rumah sakit. Hari ini adalah hari pertama baraah diperbolehkan keluar
dari ruang perawatan. Tim dokter rumah sakit sharm el-sheikh berhasil mengaputasi
kaki kiri baraah, tapi tidak dengan kondisi psikologisnya. Berkali-kali baraah
mengengeluh ujung ibu jari kaki kirinya gatal,padahal ia kini tak memiliki kaki
kiri lagi.
Kehidupan
baru baraah dimulai setelah baba panggilan baraah pada ayahnya memutuskan
meninggalkan distrik sayyedah zainab, utara kairo menuju makkah. Saat itu tak
terlalu banyak persiapan, padahal barrah dan keluarga hendak perjalanan menuju
tempat jauh yang bernama makkah.
Bagi
baraah, tinggal di distrik hujun sungguh sangat menyenangkan. Pergi ke masjid
amir sulthon belajar mengaji dengan ustadzah salma sa’diyah maupun pergi
sekolah dimadrasah ibtidaiyah bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Keluarganya
menyewa apartemen berlantai 5 bersama keluarganya dari berbagi bangsa. Di
lantai paling atas tinggal pemilik apartemen bersama keluarganya. Ia orang asli
makkah.
Diam-diam
ami Hassan mencatat dengan cermat setiap peristiwa yang dikisahkan baraah. Ia
tak sempat berpikir apakah yang dicerotakan baraah itu benar-benar kenyataan
atau hanya fantasi.
Inilah
sore yang berat bagi baraah. Pelajaran dimadrasah tak sepenuhnya bisa ia
tangkap dengan baik. Entah mengapa, sejak meninggalkan apartemen tadi
pikirannya selalu tercurah pada mama.
Ini
tentang dinia sahabat baraah. Ami Hassan tak terlalu tahu banyak tentang anak
ini. Tapi dinia selalu ada dalam hati dan pikiran baraah. Malam sudah larut,
tapi bab masih cerita tentang adenocarcinoma atau kanker pada perut. Kalau
sudah cerita tentang penyakit, baba akan kuat bicara berjam-jam tanpa henti.
Semasa
hidup disayyedah zainab, baba bekerja di sebuah rumah sakit yang menjadi
rekanan universitas al-azhar untuk melayani para mahasiswa penerima beasiswa
dari berbagai Negara didunia. Tentang bu fateema, ami Hassan mengetahuinya
tidak hanya dari cerita baraah baik ketika sadar maupun saat mengigau tapi juga
pernah vertemu saat ia datang ke makkah untuk menjemput baraah. Dalam pertemuan
singkat itu, a,I Hassan bisa merasakan bagaimana kuatnya pertalian batin antara
guru dan muridnya itu. Yangmembuat mai Hassan tersentuh adalah cerita bagaimana
bu fateema menunggu gelisah saat ada musabaqah hifzil qur’an dan pada hari
terakhir baraah belum mendaftar untuk ikut serta.
Kegiataan
musabaqah hifzil qur’an yang diselenggarakan kementrian wakaf Saudi telah
melambungkan angan-angan baraah dan dinia. Kedua anak ini senang sekali dengan
hadianya, terurama hadia utama berkeliling ke Negara-negara islam. Keduanya
lalu merajut angan. Dinia duduk gelisah diruang tunggu para peserta.
Berkali-kali ia melirik ke samping kanan, memastikan bahwa mamanya ada disana
bersama para orangtua lainnya. Wajah dan telapak tangannya berkeringat dingin.
Ini pengalaman pertama mengikitu musabaqah. Baraah sendiri duduk disampingya
dengan tenang. Bagi barah menghadapi keadaan seperti ini sudah tidak asing
lagi. Tapi seperti katamama berdoa terus agar allah memberikan jalan. Jangan
takabur!
Pagi
yang indah. Matahari bersinar terang menyapukan sinar keperakan pada bukit
berbatu, pada gedung-gedungberdinding granit dan pada aspal jalan. Baraah baru
saja menyeruput the terakhirnya, sebelum berangkat ketempat kerja. Kabar bahwa
putrinya, baraah, kembali menjadi wakil sekolahnya dalam musabaqah hifzil
qu’ran, sungguh semakin meneguhkan hati baba bahwa putrinya itu akan segera
menghafal seluruh isi al qur’an.
Baraah
tentu saja tak mengira bila mamnya akan begitu cepat berpisah. Selama mamanya
dirawat dirumah sakit dan jauh darinya, baraah seperti kehilangan sebagian
jiwanya. Tak ada lagi yang memeriksa bagus tidak bacaan yang akan disetorkan.
Tak ada lagi yang menyediakan roti isi buah atau daging cincang. Tak ada lagi
mendekap member kehangatan pada saat dilanda galau. Tapi menghafal al-qur’an
jangan sampai berhenti, tekad baraah. Mata bulatya menerawang pada titik
terjauh. Ia akan selalu ingat kata-kata mama “al-qur’an yang akan menjaga nya
didunia dan akhirat. Sekarang masih ada baba, tapi tak selamanya menjaga. Bab
sering sampai larut malam dirumah sakit, dan dirumah baraah hanya dijaga mama.
Suara
baraah mengalun indah membacakan kalam illahi. Cara mengajinya cepat, tapi
tidak kehilangan keindahannya. Para juri dan undangan yang hadir diruang aula
tersebut seolah terbius oleh keindahan suaranya. Semua mata terpatok pada sosok
gadis kecil bertubuh tinggi kurus yang duduk bersimpuh dibelakang meja kecil,
di atas panggung. Siapa mengira bila hari-hari belakangan ini, gadis kecil yang
sedang mengaji itu tengah dirundung duka. Mamanya terbaring tak berdaya dirumah
sakit melawan keganasan sel kanker yang terus menyebar.
Wajah
bara tiba-tiba saja bergelayut di kedua kelopak mata baba. Maafkan baba,
sayang, tidak turut hadir menemanimu, ucapanya dalam hati. Ia merasa bersalah
tidak bisa menemani baraah dalam seleksi tingkat provinsi. Sepenggal kenangan
saat masih tinggal disayyedah zainab sekonyong-konyong hadir. Saat baraah ikut
musabaqah, ia selalu berdoa, member semangat dan menemani. Tapi sekarang, gugat
sebelah hatinya. Entah kenapa begitu saja baba larut dengan kesedihan dan rasa
kangen yang membuncah pada tanah kelahirannya.
Senyum
ami Hassan mengembang. Ia baru saja menerima kabar menyenangkan hari ini baraah
boleh pulang. Namun setiap sepekan sekali harus tetap kontrol agar perkembangan
sel kanker penyebab osteosarcoma bisa tetap terpantau. Baik ami Hassan maupun
bibi, tak pernah tahu dengan gambling sesungguhnya yang terjadi dengan rumah
tangga kakanya itu. Selama ini mereka jarang sekali berkomunikasi, terkecuali
ada hal-hal yang dianggap sangat penting. Soal kecelakaan yang menimpa kakaknya
alias baba baraah, mereka juga tak begitu mengetahui dengan jelas. Merekahanya
menerima informasi dari pihak askar dan rumah sakit tempat kakaknya bekerja,
sehingga tak bisa berbuat banyak apalagi menuntut tanggung jawab atas
meningalnya sang kakak.
Baba
pergi kesurga dan tak akan pernah kembali. Tak akan pernah menjemput ke sekolah
lagi, tak akan pernah mengajaknya jalan-jalan ke pasar lagi, tak akan
mengangkat dan menggendongnya saat ia berhasil al-qur’an inilah yang dipahami
baraah. Gadis kecil itu kemudian semakin bersemangat menghafal al-qur’an karena
selalu mengingat kata-kata mamanya.
Kisah seorang anak yang bernama baraah, gadis kecil
ini seorang yatim piatu, ia berjuang melawan kanker didalam tubuhnya. Semangat
hidupnya, kecintaannya menghafal kitab suci, kebaikan hatinya untuk berbagii
dan ketabahannya. Ketika akan dioperasi tim dokter dibuat tercengang dengan
kesabaran yang diperlihatkan baraah sameh. Kakinya akan diamputasi untuk
menghumbat penyebaran penyakit kankernya, penyakit ganas itu telah menjalar ke
otak baraah. Ketika baba (ayahnya) meninggal tertabrak didepan matanya sendiri
saat akaan menjenguk mamanya pun meninggal dunia. Baraah mempunyai cita-cita
keliling dunia untuk membagikan hafalan kitab suci kepada seluruh
anak-anakdidunia dia tidak pantang menyerah untuk menjalani hidupnya setelah ke
dua orang tunya meninggal dunia.
Langganan:
Postingan (Atom)