Jumat, 30 Mei 2014

Rangkuman Novel Air Mata Surga

Baraah yang bermata sayu itu terlihat semakin kuyu. Ia duduk dikursi roda, didorong ami Hassan menuju taman rumah sakit. Hari ini adalah hari pertama baraah diperbolehkan keluar dari ruang perawatan. Tim dokter rumah sakit sharm el-sheikh berhasil mengaputasi kaki kiri baraah, tapi tidak dengan kondisi psikologisnya. Berkali-kali baraah mengengeluh ujung ibu jari kaki kirinya gatal,padahal ia kini tak memiliki kaki kiri lagi.
            Kehidupan baru baraah dimulai setelah baba panggilan baraah pada ayahnya memutuskan meninggalkan distrik sayyedah zainab, utara kairo menuju makkah. Saat itu tak terlalu banyak persiapan, padahal barrah dan keluarga hendak perjalanan menuju tempat jauh yang bernama makkah.
            Bagi baraah, tinggal di distrik hujun sungguh sangat menyenangkan. Pergi ke masjid amir sulthon belajar mengaji dengan ustadzah salma sa’diyah maupun pergi sekolah dimadrasah ibtidaiyah bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Keluarganya menyewa apartemen berlantai 5 bersama keluarganya dari berbagi bangsa. Di lantai paling atas tinggal pemilik apartemen bersama keluarganya. Ia orang asli makkah.
            Diam-diam ami Hassan mencatat dengan cermat setiap peristiwa yang dikisahkan baraah. Ia tak sempat berpikir apakah yang dicerotakan baraah itu benar-benar kenyataan atau hanya fantasi.
            Inilah sore yang berat bagi baraah. Pelajaran dimadrasah tak sepenuhnya bisa ia tangkap dengan baik. Entah mengapa, sejak meninggalkan apartemen tadi pikirannya selalu tercurah pada mama.
            Ini tentang dinia sahabat baraah. Ami Hassan tak terlalu tahu banyak tentang anak ini. Tapi dinia selalu ada dalam hati dan pikiran baraah. Malam sudah larut, tapi bab masih cerita tentang adenocarcinoma atau kanker pada perut. Kalau sudah cerita tentang penyakit, baba akan kuat bicara berjam-jam tanpa henti.
            Semasa hidup disayyedah zainab, baba bekerja di sebuah rumah sakit yang menjadi rekanan universitas al-azhar untuk melayani para mahasiswa penerima beasiswa dari berbagai Negara didunia. Tentang bu fateema, ami Hassan mengetahuinya tidak hanya dari cerita baraah baik ketika sadar maupun saat mengigau tapi juga pernah vertemu saat ia datang ke makkah untuk menjemput baraah. Dalam pertemuan singkat itu, a,I Hassan bisa merasakan bagaimana kuatnya pertalian batin antara guru dan muridnya itu. Yangmembuat mai Hassan tersentuh adalah cerita bagaimana bu fateema menunggu gelisah saat ada musabaqah hifzil qur’an dan pada hari terakhir baraah belum mendaftar untuk ikut serta.
             Kegiataan musabaqah hifzil qur’an yang diselenggarakan kementrian wakaf Saudi telah melambungkan angan-angan baraah dan dinia. Kedua anak ini senang sekali dengan hadianya, terurama hadia utama berkeliling ke Negara-negara islam. Keduanya lalu merajut angan. Dinia duduk gelisah diruang tunggu para peserta. Berkali-kali ia melirik ke samping kanan, memastikan bahwa mamanya ada disana bersama para orangtua lainnya. Wajah dan telapak tangannya berkeringat dingin. Ini pengalaman pertama mengikitu musabaqah. Baraah sendiri duduk disampingya dengan tenang. Bagi barah menghadapi keadaan seperti ini sudah tidak asing lagi. Tapi seperti katamama berdoa terus agar allah memberikan jalan. Jangan takabur!
            Pagi yang indah. Matahari bersinar terang menyapukan sinar keperakan pada bukit berbatu, pada gedung-gedungberdinding granit dan pada aspal jalan. Baraah baru saja menyeruput the terakhirnya, sebelum berangkat ketempat kerja. Kabar bahwa putrinya, baraah, kembali menjadi wakil sekolahnya dalam musabaqah hifzil qu’ran, sungguh semakin meneguhkan hati baba bahwa putrinya itu akan segera menghafal seluruh isi al qur’an.
            Baraah tentu saja tak mengira bila mamnya akan begitu cepat berpisah. Selama mamanya dirawat dirumah sakit dan jauh darinya, baraah seperti kehilangan sebagian jiwanya. Tak ada lagi yang memeriksa bagus tidak bacaan yang akan disetorkan. Tak ada lagi yang menyediakan roti isi buah atau daging cincang. Tak ada lagi mendekap member kehangatan pada saat dilanda galau. Tapi menghafal al-qur’an jangan sampai berhenti, tekad baraah. Mata bulatya menerawang pada titik terjauh. Ia akan selalu ingat kata-kata mama “al-qur’an yang akan menjaga nya didunia dan akhirat. Sekarang masih ada baba, tapi tak selamanya menjaga. Bab sering sampai larut malam dirumah sakit, dan dirumah baraah hanya dijaga mama.
            Suara baraah mengalun indah membacakan kalam illahi. Cara mengajinya cepat, tapi tidak kehilangan keindahannya. Para juri dan undangan yang hadir diruang aula tersebut seolah terbius oleh keindahan suaranya. Semua mata terpatok pada sosok gadis kecil bertubuh tinggi kurus yang duduk bersimpuh dibelakang meja kecil, di atas panggung. Siapa mengira bila hari-hari belakangan ini, gadis kecil yang sedang mengaji itu tengah dirundung duka. Mamanya terbaring tak berdaya dirumah sakit melawan keganasan sel kanker yang terus menyebar.
            Wajah bara tiba-tiba saja bergelayut di kedua kelopak mata baba. Maafkan baba, sayang, tidak turut hadir menemanimu, ucapanya dalam hati. Ia merasa bersalah tidak bisa menemani baraah dalam seleksi tingkat provinsi. Sepenggal kenangan saat masih tinggal disayyedah zainab sekonyong-konyong hadir. Saat baraah ikut musabaqah, ia selalu berdoa, member semangat dan menemani. Tapi sekarang, gugat sebelah hatinya. Entah kenapa begitu saja baba larut dengan kesedihan dan rasa kangen yang membuncah pada tanah kelahirannya.
            Senyum ami Hassan mengembang. Ia baru saja menerima kabar menyenangkan hari ini baraah boleh pulang. Namun setiap sepekan sekali harus tetap kontrol agar perkembangan sel kanker penyebab osteosarcoma bisa tetap terpantau. Baik ami Hassan maupun bibi, tak pernah tahu dengan gambling sesungguhnya yang terjadi dengan rumah tangga kakanya itu. Selama ini mereka jarang sekali berkomunikasi, terkecuali ada hal-hal yang dianggap sangat penting. Soal kecelakaan yang menimpa kakaknya alias baba baraah, mereka juga tak begitu mengetahui dengan jelas. Merekahanya menerima informasi dari pihak askar dan rumah sakit tempat kakaknya bekerja, sehingga tak bisa berbuat banyak apalagi menuntut tanggung jawab atas meningalnya sang kakak.
            Baba pergi kesurga dan tak akan pernah kembali. Tak akan pernah menjemput ke sekolah lagi, tak akan pernah mengajaknya jalan-jalan ke pasar lagi, tak akan mengangkat dan menggendongnya saat ia berhasil al-qur’an inilah yang dipahami baraah. Gadis kecil itu kemudian semakin bersemangat menghafal al-qur’an karena selalu mengingat kata-kata mamanya.
            Kisah seorang anak yang bernama baraah, gadis kecil ini seorang yatim piatu, ia berjuang melawan kanker didalam tubuhnya. Semangat hidupnya, kecintaannya menghafal kitab suci, kebaikan hatinya untuk berbagii dan ketabahannya. Ketika akan dioperasi tim dokter dibuat tercengang dengan kesabaran yang diperlihatkan baraah sameh. Kakinya akan diamputasi untuk menghumbat penyebaran penyakit kankernya, penyakit ganas itu telah menjalar ke otak baraah. Ketika baba (ayahnya) meninggal tertabrak didepan matanya sendiri saat akaan menjenguk mamanya pun meninggal dunia. Baraah mempunyai cita-cita keliling dunia untuk membagikan hafalan kitab suci kepada seluruh anak-anakdidunia dia tidak pantang menyerah untuk menjalani hidupnya setelah ke dua orang tunya meninggal dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar